BeritaRagamSosial

Akulturasi Budaya Karo dan Minahasa, Merga Silima Manado Bagikan Takjil Cimpa dan Cucur

Rukun Karo Merga Silima Manado berbagi takjil Kue Cucur dan Kue Cimpa. (Foto: Ist)Rukun Karo Merga Silima Manado berbagi takjil Kue Cucur dan Kue Cimpa. (Foto: Ist)
Rukun Karo Merga Silima Manado berbagi takjil Kue Cucur dan Kue Cimpa. (Foto: Ist)

Manado, SUDARA.ID – Kerukunan Karo Merga Silima Manado menghadirkan nuansa toleransi unik di tengah pelaksanaan ibadah puasa 1447 Hijriah, dengan menggelar aksi pembagian takjil yang memadukan kuliner khas suku Karo dan Minahasa, yakni kue Cimpa dan kue Cucur.

​Kegiatan yang telah rutin dilaksanakan selama tiga tahun berturut-turut ini menyasar warga Merga Silima di Manado dan sekitarnya yang sedang menjalankan ibadah puasa, di Kota Manado, Kamis (5/3/2026).

Selain Cimpa dan Cucur, para anggota juga membagikan menu hidangan Rires atau yang di Sulawesi Utara dikenal sebagai Nasi Jaha.

​Ketua Merga Silima Manado-Sulut, Salmon Tarigan, menjelaskan bahwa pemilihan kedua jenis kue ini memiliki makna filosofis yang mendalam. Menurutnya, kue Cucur yang terbuat dari tepung beras dan gula aren merupakan simbol kedewasaan dalam tradisi Minahasa.

​”Kue Cucur melambangkan kedewasaan dan hadir di setiap hajatan budaya Minahasa. Filosofi kekuatannya yang mengakar adalah semangat yang ingin kami bagikan dalam takjil kali ini,” ujar Salmon.

​Sementara itu, kue Cimpa merupakan panganan wajib dalam pesta adat Karo (kerja tahun). Kue yang terbuat dari beras ketan dan gula merah ini dibungkus dengan daun singkut (marasi) yang memberikan aroma harum yang khas.

​”Perpaduan ini adalah cara kami merawat ingatan akan tanah kelahiran Karo sekaligus memperkuat kebersamaan di tanah rantau, Minahasa,” tambahnya.

​Pembina dan Penasehat Rukun, Ester br Tarigan, memberikan apresiasi tinggi atas konsistensi kegiatan ini. Ia menekankan pentingnya menjaga dan merawat rasa kekeluargaan di tengah keberagaman keyakinan di dalam organisasi.

​Kegembiraan juga terpancar dari para penerima takjil. Yunita br Perangin-angin, salah satu anggota, menyambut pembagian ini dengan sukacita.

“Kebersamaan ini sangat bermakna bagi kami. Ada Cimpa, Cucur, bahkan Nasi Jaha atau Rires. Atmosfer kekeluargaannya sangat terasa,” ungkap Yunita.

​Hal senada disampaikan oleh Arief Arianto dan istrinya, br Tarigan. Pasangan ini mengaku terkesan dengan perhatian kerukunan yang memberikan hidangan berbuka puasa dengan sentuhan tradisi yang kental.

Aksi ini menegaskan posisi Merga Silima Manado sebagai wadah yang tidak hanya melestarikan budaya asal, tetapi juga mampu beradaptasi dan menghormati kearifan lokal tempat mereka berpijak.

Melalui kegiatan ini, Merga Silima membuktikan bahwa perbedaan latar belakang budaya dan agama justru menjadi perekat yang memperkaya nilai-nilai kemanusiaan, sekaligus memperkokoh kerukunan antarumat beragama di Bumi Nyiur Melambai.

Exit mobile version