Manado, SUDARA.ID – Rangkaian peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026 di Sulawesi Utara tidak berhenti pada seremonial lapangan. Usai memimpin upacara bendera pada pagi hari, Gubernur Sulut Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus SE langsung bergeser ke Ruang Mapalus, Kantor Gubernur, pukul 11.00 WITA.
Di ruangan tersebut, Gubernur Yulius menyaksikan jalannya pidato kenegaraan Presiden RI Prabowo Subianto melalui tayangan live streaming. Presiden Prabowo sendiri bertindak langsung sebagai komandan upacara dalam peringatan Hari Lahir Pancasila ke-81 yang dipusatkan di Gedung Pancasila, Jakarta.
Langkah Gubernur Yulius ini menegaskan komitmen jajaran Pemerintah Provinsi Sulut untuk menyelaraskan visi pembangunan daerah dengan arah transformasi nasional yang dicanangkan oleh Kepala Negara.
Fokus pada Transformasi Ekonomi Pancasila
Dalam pidato yang disimak khidmat oleh Gubernur Yulius dan jajaran, Presiden Prabowo Subianto membawa narasi kuat mengenai reorientasi arah ekonomi bangsa. Presiden menegaskan bahwa tantangan terbesar Indonesia di usia Pancasila yang ke-81 tahun ini adalah membumikan nilai-nilai luhur tersebut ke dalam sistem ekonomi nasional.
”Tugas sejarah saya sebagai Presiden RI ke-8, sebagai mandataris rakyat, adalah untuk melakukan transformasi bangsa, terutama transformasi ekonomi nasional kita. Transformasi dari ekonomi yang belum sepenuhnya berlandaskan Pancasila menuju ekonomi yang sungguh-sungguh berdasarkan Pancasila,” tegas Presiden Prabowo dalam pidatonya yang disiarkan langsung.
Presiden menyoroti ironi Indonesia yang kaya akan komoditas strategis dunia—mulai dari tembaga, nikel, emas, hingga kelapa sawit—namun sekian lama rakyatnya hanya menjadi penonton akibat nilai tambah yang dinikmati di luar negeri.
Lima Pilar Ekonomi dan Strategi Hilirisasi
Di hadapan layar kaca, Gubernur Yulius menyimak lima poin utama Ekonomi Pancasila yang dipaparkan Presiden Prabowo sebagai cetak biru pembangunan ke depan:
1. Ekonomi Religius dan Berkemanusiaan: Mengelola kekayaan alam sebagai amanah Tuhan demi gizi anak-anak, pupuk tepat waktu bagi petani, dan akses pasar bagi nelayan.
2. Berpihak pada Kepentingan Nasional: Penerapan ekspor satu pintu untuk sumber daya alam (SDA).
3. Industrialisasi Berbasis Hilirisasi: Memperkuat devisa hasil ekspor agar keuntungan menetap di dalam negeri.
4. Egaliter dan Kerakyatan (Pasal 33 UUD 1945): Penguatan peran koperasi, UMKM, dan menjadikan desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.
5. Keadilan Sosial: Pertumbuhan ekonomi yang wajib disertai pemerataan secara nyata.
Untuk mewujudkan hal itu, Presiden menyatakan pemerintah pusat tengah agresif menjalankan strategi mulai dari pemberian makan bergizi gratis, memperkuat ketahanan pangan, hingga memberantas kebocoran anggaran negara.
Siap Hadapi Rintangan dan Berdiri di Kaki Sendiri
Pidato yang disaksikan Gubernur Yulius juga menyelipkan pesan berani. Presiden Prabowo mengakui bahwa transformasi besar ini dipastikan mendapat perlawanan dari kelompok-kelompok ilegal, pelaku korupsi, dan penyelundup yang tidak cinta Tanah Air.
Namun, mengutip pesan Proklamator Bung Karno, Presiden mengajak seluruh elemen bangsa untuk berani berdiri di atas kaki sendiri (berdikari).
”Kita tidak mau jadi bangsa yang tergantung oleh bangsa lain, karena sesungguhnya tidak ada bangsa lain yang kasihan sama kita kalau kita kesulitan atau kelaparan. Ketika kita menjalankan Pancasila secara sungguh-sungguh, saya yakin Indonesia akan menjadi bangsa yang dihormati karena rakyatnya sejahtera,” pungkas Presiden Prabowo menutup pidatonya.
Melalui momentum nonton bersama ini, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara di bawah komando Gubernur Yulius Selvanus siap mengawal instruksi dan arah kebijakan ekonomi berbasis Pancasila tersebut agar dampaknya dapat langsung dirasakan oleh masyarakat di Bumi Nyiur Melambai.
