Manado, SUDARA.ID – Ketua Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) Sulawesi Utara sekaligus Komisaris Independen Bank SulutGo (BSG), Ir. H. Djafar Alkatiri, MM, M.Pdi, mengeluarkan peringatan serius terkait potensi membanjirnya daging tak layak edar di pasaran. Hal ini ditegaskannya guna melindungi umat Islam dari konsumsi daging yang tidak sehat maupun tidak halal menjelang bulan suci Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri.
Hal tersebut diungkapkan mantan Anggota DPD RI tersebut, saat menyampaikan sambutannya pada gelar Pengukuhan Pengurus DPW Juru Sembelih Halal (JULEHA) Sulut di Asrama Haji Tuminting, Jumat (13/2/2026).
Alkatiri mengungkapkan bahwa Manado dan Sulawesi Utara secara umum sangat rawan terhadap peredaran daging yang tidak memenuhi syariat maupun standar kesehatan.
“Manado ini rawan dari daging tidak halal, jadi ini memang perlu ada, bukan sekedar pengawasan tapi inspeksi, baik oleh Kementerian Agama, kemudian juga MUI,” buka Alkatiri.
Bukannya tanpa alasan, Alkatiri juga membeberkan fenomena yang memprihatinkan terkait peredaran daging, khususnya daging ayam.
“Karena banyak sekali ayam di Sulawesi Utara ini dijual sudah mati, udah gak sehat untuk kita makan, banyak dijual dipasar, bahkan di pengalengan juga banyak, dibungkus, disuntik. Polda sudah menemukan, yang suntik-suntik itu masih ada, masih jalan sampai sekarang,” ungkapnya.
Krusialnya hal ini diungkap Alkatiri, mengingat data konsumsi daging di Sulut sangat besar, yakni 2,71 juta kilogram untuk kebutuhan produksi daging sapi dan sekitar 280 ribu kilogram untuk produksi daging kambing.
“Kebutuhan produksi daging sapi Sulawesi Utara, 2,71 juta kilogram. Kedua, produksi daging kambing itu sekitar 280ribu kilogram, cukup besar, karena itu saya pikir ini perlu dilakukan pengawasan, belum lagi daging ayam, paling banyak ayam mati dijual daripada daging sapi, terutama menjelang lebaran. Di Jakarta banyak ayam mati dikumpuli, dijadikan bakso,” sebutnya.
Mengingat kerawanan tersebut, menurut Alkatiri, dibutuhkan sebuah lembaga seperti JULEHA (Juru Sembelih Halal) sebagai garda terdepan, untuk dapat menyeleksi daging yang beredar dipasaran agar masyarakat, terutama kalangan ekonomi menengah ke bawah, tidak tertipu daging murah yang ternyata bangkai atau campuran.
“Kenapa harus ada Juru Sembelih yang Halal, karena ada yang haram. Jadi ini dilakukan dalam rangka menjaga kehalalan makanan yang thayyibah, yang baik kepada masyarakat khususnya kaum muslimin, karena kalau tidak halal, kita tahu secara medis itu berpenyakit, maka JULEHA ini harus betul-betul diefektifkan, untuk memberikan arahan tentang kehalalan ini bagaimana, ini tugas JULEHA,” tegas Alkatiri.
“Kasihan orang-orang susah itu, yang penting dapat daging, dia nda tahu ini daging darimana, apalagi kalau daging sudah berseliweran murah di campur-campur, yang masalah kalau dia campur, kalau tersendiri bisa kita deteksi, tapi kalau dia campur, ini persoalannya, baik itu ayam, baik itu kambing, maupun itu sapi. Jadi kami menaruh harapan kepada JULEHA untuk selamatkan perut kami dari daging yang haram,” imbuhnya.
Alkatiri mengibaratkan peran JULEHA ini, layaknya Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dalam menyaring produk layak konsumsi dan layak pakai.
“Seperti BPOM, satu-satu badan yang menyeleksi semua obat-obat dan makan-minum yang ada di republik ini, karena itu nanti, bila ada yang lewat barang haram atau barang racun, BPOM-lah yang bertanggungjawab. Jadi begitu juga JULEHA sekarang, diberikan kewenangan lembaga ini oleh umat Islam untuk betul-betul menyeleksi supaya kita tidak makan barang yang sudah mati, yang tidak halal, haram. Jadi harus diseleksi betul-betul,” tandas Alkatiri.
Pada kesempatan itu, Alkatiri memberikan apresiasi khusus kepada Dr. Kallo Tahirun, yang baru terpilih dan terlantik untuk memimpin JULEHA Sulut. Ia menilai sosok Kallo sebagai figur yang sangat giat dan tangkas, yang sudah dikenalnya sejak masih aktif di Pemuda Masjid.
“Pak Kallo ini cocok, memang betul-betul orang yang sangat giat, dan betul-betul tangkas. Kita sudah lama kenal beliau, dari muda, dan sama-sama kita Pemuda Masjid dulu, banyak yang dia kerjain, rajin sekali beliau ini. Jadi, InsyaAllah, saya yakin JULEHA ini betul-betul akan maju dibawah beliau ini,” ujar Alkatiri.
Namun demikian menurut Alkatiri, keefektifan kinerja lembaga yang telah bersertifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) ini juga, dalam menjalankan profesi dan program kerjanya, harus ditopang dengan dukungan fasilitas sarana prasarana dan dukungan operasional yang jelas.
“Jadi harus jelas, kinerjanya seperti apa, tapi kalau JULEHA nda ada fasilitas, ini juga persoalan. JULEHA ini kalau melakukan penyembelihan harus dapat manfaat, harus dibayar, gak boleh gak dibayar. Ini harus kerjasama dengan Kementerian Agama, siapa tahu Kementerian Agama punya program,” lontar Alkatiri.
“Sekali kali ketemu Bapak Kakanwil, minta saran, minta program, InsyaAllah bisa jalan, saya support JULEHA sampai kapanpun asal betul-betul, terutama menjelang lebaran ini,” saran Alkatiri.
Namun, sebagai sosok yang kembali dipercaya menjabat Komisaris Independen Bank SulutGo (BSG), Djafar Alkatiri memastikan bahwa perbankan daerah siap bersinergi dengan JULEHA Sulut, selama program yang dijalankan jelas dan bermanfaat bagi masyarakat luas.
“Kalau kemudian nanti ada kegiatan betul-betul untuk masyarakat, InsyaAllah Bank SulutGo siap bantu, yang penting jelas, efektif buat masyarakat, nda ada masalah, saya bantu,” ucap mantap Alkatiri yang disambut antusias oleh para hadirin.
Menutup sambutannya, Tokoh senior Sulawesi Utara ini kembali mempertegas apresiasi dan dukungannya bagi keberlangsungan program kerja JULEHA Sulut ke depan.
“Jadi, Selamat Bung Kallo, kami BSG siap dukung, siap bantu, torang pribadi juga, supaya betul-betul JULEHA ini berjalan dengan baik, kita support,” pungkas sosok yang dikenal dekat dengan umat tersebut.
