Padang, SUDARA.ID – Fenomena kreator konten muda yang meraih kemandirian finansial terus mempertegas geliat ekonomi kreatif digital di Indonesia. Beni Gaharja, pemuda asal Padang, Sumatera Barat, menjadi salah satu bukti nyata bahwa kreativitas dan konsistensi memanfaatkan media sosial mampu mencetak peluang ekonomi bernilai fantastis.
Melalui akun TikTok miliknya, @ben_gajereal, Beni kini telah mengumpulkan lebih dari 3,4 juta pengikut. Namun, capaian tersebut tidak diraih dalam semalam. Perjalanan karier digitalnya dimulai dari platform YouTube pada 23 Oktober 2019, sebelum akhirnya melebarkan sayap ke TikTok pada 17 September 2021.
Kerja kerasnya mulai membuahkan hasil secara bertahap. Setelah menerima pendapatan pertama dari YouTube pada 2020, langkahnya merambah TikTok menjadi titik balik utama dalam kariernya.
”Penghasilan pertamaku di YouTube itu tahun 2020. Tetapi untuk TikTok, aku mulai menghasilkan di tahun 2022,” ujar Beni.
Beni mengungkapkan, pendapatan awal yang ia terima sebagai kreator konten berkisar di angka Rp3 juta. Bukannya berkecil hati, nominal tersebut justru menjadi pelecut semangatnya untuk terus meningkatkan kualitas konten, memperkuat personal branding, serta mempelajari preferensi audiens.
Strategi tersebut terbukti ampuh. Seiring melesatnya jumlah pengikut dan tingginya kepercayan berbagai merek (brand) untuk berkolaborasi, pendapatan Beni melonjak drastis. Ia bahkan mencatatkan pendapatan fantastis menembus angka lebih dari Rp100 juta dalam satu periode kerja sama.
Peluang Besar Sektor Ekonomi Kreatif
Capaian Beni Gaharja mempertegas posisi profesi kreator konten sebagai salah satu pilar ekonomi kreatif digital yang menjanjikan bagi generasi muda. Lebih dari sekadar statistik di media sosial, rekam jejak ini membuktikan bahwa latar belakang daerah tak lagi menjadi pembatas untuk bersaing di tingkat nasional.
Kisah sukses ini memberikan gambaran jelas bagaimana platform digital kini mampu membuka ruang karier baru yang kompetitif, sekaligus memberi alternatif pendapatan mandiri yang tak kalah dibanding sektor pekerjaan konvensional.
