Manado, SUDARA.ID – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) sukses menghentak panggung politik Bumi Nyiur Melambai lewat gelaran Rapat Kerja Daerah (Rakerda) tahun 2026. Berlangsung megah di Four Points Hotel, kawasan Manado Town Square (Mantos), Sabtu (23/5/2026), perhelatan akbar ini tidak sekadar menjadi ajang mesin partai, melainkan sebuah unjuk kekuatan konsolidasi yang solid, elegan, dan penuh rasa percaya diri.
Ribuan kader berlambang kepala garuda dari seantero Sulawesi Utara tampak memadati lokasi sejak pagi. Semangat mereka kian terbakar dengan hadirnya barisan elite Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gerindra.
Tampak hadir Ketua Harian DPP sekaligus Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Partai Gerindra yang juga Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad. Kehadiran Dasco didampingi oleh figur-figur strategis seperti Bambang Hariadi (Ketua Umum PP Satria/Wakil Ketua Komisi XII DPR RI) serta Wihadi Wiyanto (Wakil Ketua Bappilu/Anggota Komisi III DPR RI).
Kehadiran para petinggi pusat ini dibaca sebagai simbol “restu penuh” dan suntikan moral raksasa bagi kepengurusan daerah di bawah komando sang nakhoda utama, Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus SE.
Panggung Pembuktian 14 Bulan Yulius-Victory
Saat naik ke podium, Ketua DPD Gerindra Sulut yang juga menjabat sebagai Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus, langsung memukau hadirin dengan narasi kepemimpinannya yang lugas. Didampingi Wakil Gubernur Victor Mailangkay, Yulius membeberkan lembar demi lembar catatan emas selama 14 bulan menakhodai provinsi tersebut.
Yulius menegaskan bahwa kunci lompatan besar Sulut adalah keharmonisan politik lintas partai dan komitmen mutlak pada kesejahteraan rakyat.
”Saya dengan Pak Victor berangkat memulai pekerjaan dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Kami melihat ada ketimpangan tajam, grafik IPM di pinggiran hanya 68 persen sementara Manado mencapai 82,5 persen. Angka ini terlalu jauh. Maka, semua konsentrasi kegiatan kami arahkan ke Bolaang Mongondow Raya dan Nusa Utara,” ujar Yulius di hadapan ribuan pasang mata.
Strategi tersebut berbuah manis. Di bawah kepemimpinannya, IPM Sulut melonjak tajam melampaui angka rata-rata 71 persen di wilayah pinggiran, membawa akumulasi IPM tingkat provinsi merangkak naik dari 74 persen dan kini bersiap menyentuh angka 77 persen.
“Ini kalau bukan karena kerja bersama antarpartai di provinsi, enggak mungkin terjadi,” tambahnya memberi apresiasi kepada jajaran parpol mitra.
Tak hanya IPM, di bawah komando Yulius, Sulut sukses menyabet penghargaan nasional sebagai daerah dengan penanganan stunting terbaik nomor satu di Indonesia, serta meraih penghargaan digitalisasi pendidikan dari Kementerian Pendidikan.
Dobrakan Ekonomi: WPR dan Potensi PAD Rp5,5 Triliun
Satu di antara kejutan besar yang dipaparkan Yulius dalam Rakerda ini adalah keberhasilan diplomasinya di tingkat pusat dalam menggolongkan Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR). Dibantu oleh Bambang Hariadi di DPR RI, Sulut sukses mengamankan 63 blok WPR dengan total luas mencapai 6.300 hektare.
Dobrakan ini diyakini akan melegalkan penambangan rakyat, menyerap ribuan tenaga kerja lewat skema koperasi, dan meredam konflik vertikal. Melalui draf Peraturan Gubernur yang kini sedang diharmonisasi di Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian ESDM, pemerintah daerah memproyeksikan iuran pertambangan rakyat sebesar 7 persen.
”Kalau ini dilegalkan, dengan rata-rata hasil penambangan, kita berpotensi mendapatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) hingga Rp5,5 Triliun per tahun. Kalau bukan Bapak Presiden Prabowo Subianto yang memberikan ini, hari ini kita nol,” tegas purnawirawan jenderal bintang dua tersebut yang langsung disambut riuh tepuk tangan peserta.
Sentilan Jenaka dan Pesan Terbuka untuk Kader: “Jangan Langsung Lapor Pusat”
Di balik ketegasan narasinya, suasana Rakerda sempat mencair saat Yulius memberikan evaluasi internal bagi para kadernya. Dengan gaya yang komunikatif dan sedikit berkelakar, ia menyentil dinamika komunikasi kader yang kerap kali “melompat” langsung melapor ke Jakarta jika merasa kurang diperhatikan.
”Kepada para kader, terima kasih kalian tidak macam-macam selama 14 bulan ini. Memang kadangkala ada yang ekstrem kalau WA ke saya, ada yang bilang tidak diurus ketua DPD, ada yang merasa terlupakan. Makanya datang menghadap, jangan takut-takut. Pintu terbuka,” kata Yulius disambut tawa para kader.
Namun, ia memberikan batasan waktu yang tegas demi profesionalitas kerja sebagai kepala daerah.
”Pintu terbuka 24 jam, tapi di atas jam 10 malam ya. Di bawah jam 10 malam, saya harus mengurusi pemerintahan dulu. Jangan mengganggu jam kerja, support dan awasi gubernurmu. Setelah jam 10 malam boleh kita begadang sampai jam 2 pagi. Saya tidak pernah tinggalkan kalian, jadi enggak usah lapor-lapor ke pusat. Malu juga saya kena tegur dari DPP,” selorohnya yang disambut senyum penuh arti dari Sufmi Dasco Ahmad di barisan depan.
Menuju Sesi Internal: Gerindra yang Humanis dan Tidak Sombong
Menutup pidato pembukaannya, Yulius menegaskan bahwa rangkaian Rakerda terbagi menjadi dua tahap, di mana sesi setelah makan siang akan difokuskan penuh pada konsolidasi internal partai untuk merumuskan strategi taktis ke depan.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf jika selama 14 bulan memimpin masih ada hal yang kurang berkenan. Baginya, watak asli kader Gerindra di Sulut adalah merangkul, bukan memukul.
”Yakinlah bahwa Partai Gerindra di sini tidak sombong. Kami dilatih, diajak, dan diperintahkan bukan untuk sombong, melainkan untuk mengajak semua komponen yang ada di Sulawesi Utara bersama-sama memajukan dan menyejahterakan rakyat,” pungkas Yulius menutup sambutannya dengan elegan.
Rakerda yang dipimpin oleh Ketua Panitia Pelaksana, Ronald Gunawan Kansil, yang juga menjabat Ketua PC TIDAR Kota Bitung sekaligus Wakil Ketua DPRD Kota Bitung ini dipastikan menjadi cetak biru (blueprint) penting bagi pergerakan politik Gerindra di Sulawesi Utara dalam menatap tahun-tahun politik ke depan di bawah panji satu komando.
