Minahasa Selatan, SUDARA.ID – Kualitas layanan operator seluler Telkomsel di Desa Makasili, Kecamatan Kumelembuai, Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel), mendapat sorotan tajam. Pasalnya, sinyal dilaporkan mati total selama kurang lebih 24 jam terakhir hingga mengakibatkan komunikasi warga lumpuh sepenuhnya.
Kondisi ini memicu kekecewaan mendalam bagi penduduk desa yang kini sangat bergantung pada jaringan seluler untuk aktivitas sehari-hari, mulai dari urusan pekerjaan hingga pendidikan.
Salah satu warga, Yani, mengungkapkan bahwa hilangnya sinyal secara total ini sangat mengganggu produktivitas masyarakat. Ia menyebut insiden “mati lampu” sinyal ini bukanlah hal baru di wilayah mereka.
”Sinyal Telkomsel di Makasili terlalu sering mati total. Ini bukan pertama kali, selalu dan selalu begini,” ungkap Yani, salah satu warga terdampak, Sabtu (28/3/2026).
Menurut penuturan warga, gangguan jaringan kronis ini kerap terjadi tanpa adanya perbaikan yang signifikan dari pihak penyedia layanan. Hal ini dinilai sangat merugikan, mengingat hampir seluruh sektor kehidupan saat ini berbasis digital.
Dampak dari matinya jaringan ini juga merembet ke sektor ekonomi. Sejumlah warga mengaku kesulitan melakukan transaksi digital serta mengakses informasi penting yang kini mayoritas bergantung pada koneksi internet.
Warga Desa Makasili mendesak pihak Telkomsel untuk segera mengambil langkah konkret guna memperbaiki kualitas infrastruktur jaringan di wilayah mereka.
Selain itu, mereka meminta perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Minahasa Selatan agar permasalahan yang berulang ini mendapatkan solusi permanen.
”Kami berharap permasalahan yang berulang ini segera ditangani dan tidak terus terjadi secara periodik,” tambah warga lainnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak manajemen Telkomsel belum memberikan keterangan resmi terkait penyebab pemadaman sinyal secara total di wilayah Kecamatan Kumelembuai tersebut.
Ketergantungan masyarakat terhadap akses digital kini bukan lagi sekadar gaya hidup, melainkan urat nadi ekonomi dan pendidikan. Namun, di Desa Makasili, nadi itu seolah dipaksa berhenti setiap kali sinyal menghilang.
Warga kini hanya bisa menanti; kapan kiranya hak mereka atas koneksi yang stabil bukan lagi menjadi barang mewah, melainkan standar layanan yang nyata.
