Scroll untuk baca artikel
Example 360x360
Example 728x250
Berita UtamaBisnis & EkonomiPendidikanTeknologi

AgroFood 2026: Pakar Teknologi Pangan UPH Donald Pokatong Gagas Inovasi Komoditas Lokal Tekan Impor Gandum

×

AgroFood 2026: Pakar Teknologi Pangan UPH Donald Pokatong Gagas Inovasi Komoditas Lokal Tekan Impor Gandum

Sebarkan artikel ini
Assoc. Prof. Donald Pokatong mempresentasikan gagasan pemanfaatan komoditas lokal untuk menekan ketergantungan impor gandum dalam AgroFood 2026. (Foto: Istimewa)
Assoc. Prof. Donald Pokatong mempresentasikan gagasan pemanfaatan komoditas lokal untuk menekan ketergantungan impor gandum dalam AgroFood 2026. (Foto: Istimewa)
Example 468x60

Kuala Lumpur (Malaysia), SUDARA.ID – Ketergantungan Indonesia terhadap impor gandum untuk kebutuhan industri pangan olahan dinilai masih menjadi tantangan besar dalam mewujudkan kemandirian pangan nasional. Upaya substitusi bahan baku lokal terus didorong sebagai langkah strategis memperkuat ketahanan pangan berbasis sumber daya domestik.

 

Example 300x600

​Gagasan tersebut ditegaskan oleh akademisi sekaligus pakar Teknologi Pangan dari Universitas Pelita Harapan (UPH), Assoc. Prof. Ir. W. Donald R. Pokatong, M.Sc., Ph.D., saat menjadi pembicara dalam 7th International Conference on Agriculture, Food Security and Safety (AgroFood 2026) yang berlangsung pada 4–5 Agustus 2026 di Hotel Capitol, Kuala Lumpur, Malaysia.

​Dalam forum berskala internasional bertajuk “Strengthening Agri-Food Resilience: Technology, Safety, and Sustainability Amidst Global Climate Challenges” tersebut, Donald memaparkan besarnya volume impor gandum Indonesia yang berdampak langsung pada beban perekonomian nasional.

​“Pada tahun 2024, Indonesia mengimpor gandum mencapai 11,7 juta ton dengan nilai sekitar Rp56,6 triliun. Angka ini sangat signifikan dan menjadi beban ekonomi yang cukup berat, sehingga target swasembada pangan nasional menjadi sulit dicapai,” ujar Donald.

Baca juga:   Refleksi Satu Tahun Pengabdian Hengky-Randito: Kerja Nyata untuk Rakyat, Melayani dengan Hati

​Ia menjelaskan bahwa tepung terigu berbasis gandum saat ini masih menjadi bahan baku utama berbagai produk pangan olahan populer masyarakat, seperti mi, biskuit, kue basah, hingga roti tawar. Di sisi lain, kondisi iklim tropis Indonesia membuat tanaman gandum tidak dapat dibudidayakan secara optimal di dalam negeri.

Inovasi Pangan Lokal: Tepung Kacang Tunggak Termodifikasi

​Sebagai solusi konkret, Donald mempresentasikan hasil riset terbaru dari laboratorium Teknologi Pangan UPH terkait pemanfaatan bahan pangan lokal untuk memotong ketergantungan pada gandum impor.

​Penelitian tersebut berfokus pada penggunaan tepung kacang tunggak yang dimodifikasi secara fisik melalui metode Heat Moisture Treatment (HMT). Flour hasil modifikasi ini kemudian dicampur dengan tepung terigu dalam rasio tertentu untuk memproduksi roti tawar.

Baca juga:   Libur Nataru, Posko Otban VIII Manado Monitor Pergerakan Pesawat dan Penumpang di 4 Bandara

​“Melalui substitusi parsial ini, kita berharap dapat menekan volume impor gandum secara bertahap. Penelitian sejenis perlu terus dikembangkan untuk mendapatkan rasio substitusi yang paling optimal,” ungkap akademisi berdarah Bantik Minanga-Malalayang lulusan University of Saskatchewan, Kanada tersebut.

​Meski demikian, ia mengakui adanya tantangan teknis dalam proses substitusi total. Gandum memiliki protein fungsional berupa gluten yang memberikan elastisitas dan daya kembang maksimal pada adonan roti—karakteristik yang tidak dimiliki oleh kelompok legum maupun umbi-umbian.

​“Gluten inilah yang membuat volume roti mekar sempurna, yang menjadi preferensi utama konsumen. Hal ini pula yang menyebabkan tepung terigu belum bisa digantikan secara 100 persen oleh sumber pangan lain,” tambahnya.

Tantangan Swasembada Pangan Nasional

​Lebih lanjut, Donald menyoroti pentingnya komitmen bersama dalam menjalankan amanat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, yang menekankan bahwa setidaknya 90 persen kebutuhan pangan nasional idealnya dipenuhi dari sumber domestik.

Baca juga:   Konferensi Internasional AgroFood 2026, Dosen Senior Teknologi Pangan UPH: Upaya Penurunan Penggunaan Gandum Impor Mendukung Ketahanan Pangan

​“Secara nasional, kita masih mengimpor beberapa komoditas strategis, termasuk kedelai dan gandum. Impor gandum memakan porsi besar karena keterbatasan agroklimat kita. Kondisi ini yang mempersulit percepatan swasembada pangan jika tidak disikapi dengan inovasi teknologi pangan lokal,” pungkasnya.

​Konferensi AgroFood 2026 sendiri diselenggarakan oleh iConferences Sri Lanka bekerja sama dengan mitra akademik dari Universiti Malaya dan University of Agriculture Faisalabad, Pakistan. Kegiatan yang digelar secara hybrid ini menghadirkan ratusan peneliti, pembuat kebijakan, dan praktisi global dari berbagai negara, termasuk China, Taiwan, India, Kolombia, Inggris, Australia, Kanada, hingga Afrika Selatan, guna merumuskan solusi atas tantangan iklim dan krisis pangan global.

Loading

Example 300250
Example 120x600
Example 300250 Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *