Manado, SUDARA.ID – Genap satu tahun masa kepemimpinan Gubernur Sulawesi Utara, Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, S.E., dan Wakil Gubernur Dr. J. Victor Mailangkay, S.H., M.H. (YSK-Victory), Sulawesi Utara mencatatkan transformasi signifikan di berbagai sektor fundamental.
Sejak resmi menakhodai roda pemerintahan secara de facto pada 5 Maret 2025, pasangan ini dinilai berhasil membawa stabilitas ekonomi serta membenahi kebuntuan birokrasi yang selama bertahun-tahun menjadi tantangan daerah.
Keberhasilan tersebut tercermin jelas dalam indikator makro ekonomi. Berdasarkan data capaian periode 5 Maret 2025 hingga 5 Maret 2026, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara kini bertengger di angka 5,66 persen. Performa positif ini diperkuat dengan kebijakan kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) sebesar 6,01 persen, yang secara langsung mendongkrak daya beli masyarakat sekaligus menjaga stabilitas fiskal daerah.
Sejalan dengan pertumbuhan tersebut, salah satu pencapaian paling krusial dalam 12 bulan terakhir adalah tuntasnya penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang sempat mangkrak selama tujuh tahun. Kepastian hukum ini menjadi magnet kuat bagi investor global, salah satunya dengan masuknya INA Group dari Jepang untuk mengembangkan sektor industri baru dan memperluas lapangan kerja.
Tidak hanya fokus pada investasi luar, YSK-Victory juga melakukan pembenahan radikal di sisi internal pemerintahan. Penataan administrasi aset yang progresif membuahkan hasil membanggakan berupa Opini A dari BPK RI. Prestasi ini menandai era baru tata kelola keuangan daerah yang lebih kredibel, transparan, dan akuntabel.
Tidak hanya sampai disitu, kepemimpinan Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus SE juga berhasil mengubah paradigma disiplin ASN Pemprov Sulut dengan mengonversi nilai-nilai militeristik menjadi etos kerja profesional yang humanis.
Gubernur Yulius tidak sekadar menerapkan pengawasan kaku, melainkan mengintegrasikan sistem penghargaan berbasis kinerja (merit system) yang transparan dengan keteladanan langsung (leading by example), sehingga disiplin tidak lagi dipandang sebagai beban instruksi, melainkan sebagai kebutuhan integritas dalam pelayanan publik. Pendekatan ini secara efektif mengikis budaya kerja pasif dan menggantinya dengan mentalitas pelayan masyarakat.
Selanjutnya, Semangat pembangunan yang dijalankan pemerintah provinsi tidak hanya berpusat di daratan utama, tetapi juga menyentuh masyarakat pesisir dan wilayah terluar. Saat ini, akses listrik 24 jam telah menjangkau wilayah kepulauan seperti Pulau Gangga, Mantehage, Nain, Buhias, hingga Kakorotan. Langkah strategis ini dinilai menjadi kunci penggerak ekonomi mikro serta peningkatan kualitas pendidikan di wilayah kepulauan.
Paralel dengan pembangunan infrastruktur dasar, sektor pariwisata kembali bergairah melalui pembukaan rute penerbangan internasional langsung yang menghubungkan Manado dengan Korea, Taipei, Jepang, dan China. Momentum ini dimanfaatkan pemerintah dengan merevitalisasi destinasi ikonik seperti Bukit Kasih dan Museum Sulawesi Utara, yang berdampak langsung pada geliat sektor UMKM kreatif.
Bergeser ke sektor Sumber Daya Manusia (SDM), pemerintah melakukan ekspansi pendidikan melalui pembukaan Fakultas Kedokteran dan Fakultas Pertanian di Universitas Negeri Manado (Unima). Hal ini merupakan langkah jangka panjang untuk mencetak tenaga profesional lokal yang siap pakai.
Sementara itu di bidang kesehatan, kehadiran layanan medis Digital Subtraction Angiography (DSA) pertama di Sulawesi Utara menjadi tonggak sejarah baru. Fasilitas ini memperkuat kapasitas Sulut sebagai pusat rujukan medis utama di wilayah Indonesia bagian Timur.
Di sisi lain, YSK-Victory membuktikan bahwa pembangunan tidak melulu soal fisik. Perhatian khusus diberikan pada perlindungan sosial bagi kelompok strategis seperti rohaniawan, atlet, dan seniman melalui jaminan sosial yang terukur.
Di saat yang sama, pemerintah menunjukkan respons cepat dalam penanganan bencana banjir serta longsor di Manado dan Sitaro, sembari tetap konsisten menjaga stabilitas inflasi daerah.
Pencapaian satu tahun ini juga mencakup penegasan identitas daerah di kancah internasional. Diplomasi budaya terus diperkuat melalui pengawalan intensif musik kolintang menuju pengakuan UNESCO sebagai warisan budaya dunia.
Capaian sepanjang tahun pertama ini menjadi bukti bahwa arah pembangunan Sulawesi Utara di bawah komando YSK-Victory tidak hanya terpaku pada angka-angka statistik pertumbuhan semata. Transformasi yang dilakukan justru menyasar pada penguatan akar struktur sosial, ekonomi, dan budaya yang lebih kokoh.
Dengan menempatkan masyarakat sebagai pusat kebijakan, fondasi yang telah dibangun selama setahun terakhir ini diharapkan mampu menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan, inklusif, dan memiliki daya saing tinggi bagi seluruh lapisan warga Sulawesi Utara di masa depan.
