Lingkungan

Sepasang Burung Maleo Endemik Ditemukan di Kaki Gunung Klabat

Sepasang Burung Maleo Endemik Ditemukan di Kaki Gunung Klabat. (Ft : Istimewa / sudara)

Minahasa Utara – Penemuan sepasang burung Maleo endemik Sulawesi di kawasan kaki Gunung Klabat menjadi perhatian penting dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati di Sulawesi Utara.

Informasi tersebut disampaikan oleh PT Tirta Investama Airmadidi dalam pertemuan bersama pemerintah daerah, sebagai bagian dari program tanggung jawab sosial dan lingkungan (CSR) perusahaan.

Burung Maleo (Macrocephalon maleo) merupakan satwa endemik Sulawesi yang dilindungi dan umumnya hidup di wilayah pesisir atau hutan dataran rendah.

Namun, temuan di kawasan kaki Gunung Klabat menunjukkan spesies ini muncul di habitat hutan dataran tinggi (upland forest) yang tidak lazim. Kondisi ini dinilai penting karena membuka kemungkinan adanya adaptasi atau perluasan habitat alami Maleo.

Badan Karantina Indonesia Ingatkan Aturan Pengiriman Hewan untuk Cegah Penyebaran Penyakit

Menindaklanjuti temuan tersebut, perusahaan bersama mitra CSR Lestari Bumi Hijau melakukan berbagai upaya pelestarian dengan pendekatan non-intervensi terhadap satwa, antara lain:

Sosialisasi kepada pemerintah dan masyarakat Edukasi di wilayah jelajah burung Maleo Pemasangan papan larangan berburu Kerja sama dengan berbagai pihak dalam perlindungan habitat

Kegiatan ini turut melibatkan BPBD, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Unit VI, serta komunitas pecinta alam.

Keberadaan burung Maleo di kawasan tersebut juga diperkuat oleh penelitian akademisi dari Universitas Sam Ratulangi (Unsrat).

Karantina Sulawesi Utara Gagalkan Penyelundupan 50 Ekor Burung Kasturi Ternate

Penelitian berjudul “Behavioural Responses of the Endemic Maleo (Macrocephalon maleo) in a Non-Typical Upland Forest Habitat” menunjukkan bahwa kawasan kaki Gunung Klabat memiliki nilai penting sebagai habitat alternatif bagi spesies endemik tersebut.

Selain fokus pada perlindungan satwa, program CSR juga mencakup rehabilitasi mata air, penanaman pohon, serta pembuatan lubang resapan guna menjaga keseimbangan ekosistem di kawasan tersebut.

Temuan ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan dalam menjaga kelestarian lingkungan dan habitat satwa endemik Sulawesi secara berkelanjutan.Mz

Exit mobile version