Kuala Lumpur (Malaysia), SUDARA.ID – Indonesia harus mengimpor gandum/tepung gandum untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri untuk digunakan memproduksi berbagai produk pangan olahan antara lain mi, kukis kering/biskuit, kue basah, dan produk-produk roti termasuk roti tawar dimana tepung terigu (gandum) merupakan bahan baku utamanya.
Hal ini disampaikan oleh Assoc. Prof. Ir. W. Donald R. Pokatong, M.Sc., Ph.D. saat membawakan materi dalam “Konferensi Internasional ke-7 tentang Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Keamanan Pangan” (AgroFood 2026) pada tanggal 4-5 Agustus 2026 di Hotel Capitol, Kuala Lumpur, dengan tema tahun ini “Memperkuat Ketahanan Pangan-Pertanian: Teknologi, Keamanan, dan Keberlanjutan di Tengah Tantangan Iklim Global”.
“Indonesia pada tahun 2024 mengimpor gandum sebesar 11,7 juta ton dengan nilai sekitar 56,6 trilyun rupiah. Nilai yang sangat besar ini menjadi isu ekonomi sangat signifikan dan menjadi beban ketahanan pangan yang menyebabkan kemandirian (swasembada) pangan nasional sulit tercapai,” jelas Donald Pokatong, jebolan S3 University of Saskatchewan, Canada.
Donald Pokatong juga menjelaskan, Agro Food 2026 yang diselenggarakan oleh iConferences, Srilangka sebagai organizer dengan Mitra Akademik dari Universiti Malaya dan University of Agriculture, Faisalabad, Pakistan dilakukan dengan format luring dan daring untuk memastikan aksesibilitas global. Menghadirkan presenter/pembicara dari berbagai negara antara lain; China, Taiwan, India, Pakistan, Colombia, Indonesia, Bangladesh, Srilangka, dan tentunya Malaysia, dan yang presentasi secara daring a.l. dari Inggris, Australia, Canada, Afrika Selatan.
“Hasil penelitian dari lab Teknologi Pangan UPH yang kami presentasikan adalah bagaimana sumber pangan lokal dapat mensubstitusi secara parsial tepung terigu yang harus diimpor sehingga menjadi beban ekonomi nasional. Tepung yang diolah dari kacang tunggak sebagai sumber pangan lokal dimodifikasi secara fisik menggunakan metode perlakuan termal dan lembab (heat moisture treatment), kemudian digunakan dalam pengolahan roti tawar dimana tepung terigu dicampur dengan tepung kacang tunggak termodifikasi dengan beberapa rasio tertentu,” kata Donald Pokatong, putra Bantik Minanga-Malalayang yang pada konferensi ini mewakili Universitas Pelita Harapan (UPH), Program Studi Teknologi Pangan.
Lebih lanjut Doktor Pokatong mengatakan, dengan substitusi parsial diharapkan dapat mengurangi penggunaan gandum yang harus diimpor yang artinya menurunkan beban ketahanan pangan. Penelitian sejenis ini perlu terus dilanjutkan untuk memperoleh rasio substitusi optimal. Hal ini merupakan tantangan karena gandum memiliki protein fungsional yakni gluten yang tidak terdapat pada biji-bijian jenis polong-polongan (legume), umbi-umbian, dll, hal ini juga menjadi alasan mengapa tepung terigu tidak bisa diganti 100% oleh tepung dari sumber lain. Protein ini yang menyebabkan pengembangan volume roti maksimal, sehingga dengan dasar ini, konsumer akan memilih roti tawar dengan volume yg lebih besar walaupun dibuat dari adonan dengan berat yang sama.
Menurut Donald Pokatong, pada Konferensi tahun ini, yang mengangkat tema di atas, menyatukan beragam komunitas ahli, peneliti, pembuat kebijakan, dan praktisi untuk mengeksplorasi solusi inovatif terhadap beberapa tantangan paling mendesak di zaman kita. Diskusi berfokus pada pertanian berkelanjutan, teknologi, ketahanan pangan, keamanan pangan, dan keterkaitan antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan, di tengah tantangan perubahan iklim global.
“Secara nasional, kita masih mengimpor beberapa bahan pangan termasuk kedelai yang harus diimpor. Apalagi gandum, mau tidak mau, harus diimpor karena Indonesia yang tropis, gandum tidak bisa tumbuh. Hal ini mempersulit Indonesia mencapai swasembada pangan (dimana paling tidak 90% pangan harus dari sumber domestik) sesuai dengan amanat dalam UU Pangan No. 18 Tahun 2012 yang antara lain tentang kemandirian (swasembada) pangan,” pungkas Donald Pokatong dengan bahasa Inggris yang fasih. (JO)
















