Bahu (Manado), SUDARA.ID – Menyongsong dimulainya tahapan Pemilihan Umum (Pemilu) 2029 pada pertengahan 2027, dinamika politik nasional diwarnai sengitnya tarik-menarik kepentingan antar partai politik terkait substansi perubahan Undang-Undang Pemilu. Guna mengurai berbagai perdebatan tersebut, Pusat Studi Kepemiluan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sam Ratulangi (FISIP Unsrat) akan menggelar Seminar Nasional bertajuk “Pro Kontra Materi Revisi UU Pemilu” pada Kamis, 1 Oktober 2026, di Gedung Dekanat Lantai 3 FISIP Unsrat, pukul 09.00 WITA.
Dekan FISIP Unsrat, Dr. Ferry Daud Liando, S.I.P., M.Si., mengungkapkan bahwa perumusan aturan main pemilu ini sarat akan perbedaan kepentingan antar faksi politik. Setidaknya, terdapat tiga poin utama yang saat ini menjadi perdebatan sengit di ruang publik:
1. Ambang Batas Parlemen (Parliamentary Threshold / PT)
Sejumlah partai besar di DPR, seperti Gerindra, Golkar, dan PKS, mendorong kenaikan angka ambang batas parlemen dari 4% menjadi 5% demi menyederhanakan jumlah partai. Sebaliknya, koalisi partai non-parlemen dan kelompok masyarakat sipil menolak keras usulan ini karena dinilai berpotensi menghanguskan jutaan suara sah pemilih yang tidak terkonversi menjadi kursi, serta mendesak penurunan angka hingga 1%.
2. Sistem Pemilu Legislatif (Terbuka vs Tertutup)
Perdebatan berlanjut pada pilihan sistem pemilu—apakah menggunakan proporsional terbuka, tertutup, atau campuran. Isu ini menyangkut pertarungan antara sejauh mana kontrol partai diberlakukan terhadap kandidat terpilih versus perlindungan hak langsung pemilih di bilik suara.
Ambang Batas Presiden (Presidential Threshold)
3. Wacana penyesuaian atau bahkan penghapusan ambang batas pencalonan presiden turut mengemuka, menyusul adanya putusan dan mandat dari Mahkamah Konstitusi (MK) untuk membuka ruang pencalonan pasangan calon yang lebih luas bagi bangsa.
Untuk membedah sisi positif dan negatif dari berbagai alternatif pilihan tersebut secara objektif, seminar nasional ini akan menghadirkan deretan narasumber kompeten di bidang kepemiluan, yaitu:
- Dr. Ferry Daud Liando SIP MSi (Dekan FISIP Unsrat)
- Afrimadona (Direktur Eksekutif Populix / Populi Centre)
- Prof. Dr. Phil Aditya Perdana (Peneliti Politik FISIP UI)
- Yohan Wahyu (Peneliti Pemilu Litbang Kompas)
Melalui forum ilmiah ini, FISIP Unsrat berharap dapat merumuskan diskursus konstruktif yang menjembatani kepentingan politik elite dan aspirasi keadilan masyarakat jelang perhelatan Pemilu 2029. (Ridho L Tobing)
















