Manado, SUDARA.ID – Anggota Komisi IV DPRD Kota Manado, Natanael Pepah, SE, menggelar Reses III di Daerah Pemilihan (Dapil) Sario–Malalayang guna menyerap aspirasi masyarakat secara langsung. Dalam tatap muka yang berlangsung dialogis tersebut, politisi PDI Perjuangan ini menampung berbagai persoalan krusial warga, mulai dari krisis air bersih, perbaikan jalan lingkungan, hingga fasilitas publik yang rusak di kawasan Pantai Malalayang.
Keluhan mendasar yang paling mendominasi datang dari warga Malalayang II dan kawasan Manibang jaringan dalam. Pelayanan PDAM dinilai belum optimal lantaran distribusi air yang kerap terhenti dan tidak stabil, terlebih di tengah iklim musim kemarau panjang.
Ipi Kalalo, salah seorang warga Malalayang II, menyampaikan keresahan masyarakat yang mengaku sudah menanti solusi konkret selama kurang lebih empat tahun. Selain persoalan distribusi, warga yang berstatus menumpang lahan juga menanyakan adanya kebijakan khusus terkait akses air bersih serta bantuan wadah penampung air.
Menanggapi hal tersebut, Natanael Pepah menegaskan bahwa pemenuhan suplai air bersih di wilayah Malalayang II merupakan prioritas utama yang harus segera dituntaskan.
Ia menjelaskan bahwa secara teknis saat ini terdapat empat Instalasi Pengolahan Air (IPA) baru yang diproyeksikan menyuplai kebutuhan air bersih Kota Manado, termasuk pengkoneksian ke wilayah Malalayang dan Krida. PDAM juga berencana menambah bak penampung untuk memperkuat pasokan.
”Empat IPA baru ini nantinya dikoneksikan ke wilayah Malalayang dan Krida. Secara teknis seharusnya wilayah ini sudah mendapatkan suplai air yang lebih baik. Kami akan meminta informasi resmi dari PDAM terkait progresnya,” ujar Pepah.
Terkait kendala administratif warga yang tidak menempati lahan pribadi, Pepah memastikan bakal berkoordinasi lintas instansi agar mendapatkan jalan keluar yang tepat.
”Karena status tanah yang ditempati bukan milik sendiri, tentu kami koordinasikan dengan PDAM dan dinas terkait untuk dicarikan solusi terbaik, termasuk melihat kemungkinan bantuan tong air,” tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, Pepah meluruskan mekanisme program bantuan bedah rumah yang kerap memicu pertanyaan publik. Ia menerangkan bahwa regulasi mewajibkan bangunan penerima manfaat berdiri di atas lahan milik sendiri secara sah.
Selain krisis air, warga turut mendesak Pemerintah Kota Manado untuk membenahi kembali fasilitas umum di kawasan destinasi wisata Pantai Malalayang, seperti toilet dan lampu penerangan yang mulai rusak dan mengganggu kenyamanan pengunjung.
Atas seluruh masukan tersebut, Natanael Pepah mengaku telah bergerak cepat melakukan komunikasi awal dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) teknis. Persoalan jalan pemukiman diarahkan ke Dinas Perkim, sementara penanganan saluran air diselaraskan bersama Dinas PUPR.
”Tugas kami adalah memperjuangkan aspirasi masyarakat. Kasihan masyarakat terutama yang tinggal di lorong-lorong jika infrastrukturnya kurang memadai. Seluruh aspirasi pada masa reses ini akan saya bawa dan perjuangkan secara resmi dalam sidang maupun rapat paripurna DPRD Kota Manado,” pungkasnya.
















