Jakarta, SUDARA.ID – Pengurus Pusat Persatuan Tinju Amatir Indonesia (PP PERTINA) langsung tancap gas dalam merombak total sistem pembinaan tinju tanah air. Mengusung misi besar menembus panggung dunia, induk organisasi tinju amatir Indonesia di bawah komando Dr. Hillary Brigitta Lasut, S.H., LL.M. resmi menggandeng dua raksasa olahraga Asia untuk menyuntikkan teknologi modern ke dalam pelatnas.
Langkah strategis ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) tripartit berskala global bersama Tim Tinju Yong In University (Korea Selatan) dan Tim Tinju Chinese Culture University (Taiwan) pada Kamis, 16 Juli 2026. Kolaborasi ini menjadi tonggak baru bagi PERTINA yang kini berkomitmen penuh untuk mengawinkan bakat alami petinju Indonesia dengan ilmu pengetahuan olahraga (sports science).
Dalam prosesi bersejarah tersebut, Ketua Umum PP PERTINA diwakili oleh Wakil Ketua Umum II dan dikawal langsung oleh jajaran pengurus teras, termasuk Kabid Hubungan Luar Negeri Mayjen TNI (Purn.) Syachrial Effendihi Siregar, perwakilan Hubungan Luar Negeri Roni Pasaribu, perwakilan Bidang Pembinaan Prestasi Vinky Montolalu, Kabid Komtek Ucok Sitompul, perwakilan IT dan Litbang Mashudi Kapahang, perwakilan Kemitraan dan Marketing Anil Gill, perwakilan Peralatan Empi Rahawarin, serta perwakilan Humas Hasbani.
Suntikan Mental Juara dan Transfer Teknologi
Daya tarik luar biasa dari kolaborasi internasional ini adalah keterlibatan langsung Prof. Lin Yu-Ting, sosok peraih medali emas Olimpiade yang berada di dalam ekosistem kemitraan tersebut. Kehadiran sang legenda hidup diproyeksikan bakal memberikan dampak instan bagi petinju tanah air, baik dari segi transfer teknologi pelatihan maupun suntikan mentalitas juara.
Ketua Umum PP PERTINA, Hillary Brigitta Lasut, menegaskan bahwa era mengandalkan bakat alam mentah-mentah sudah habis. Untuk bisa meledak di panggung tertinggi seperti Olimpiade, Indonesia wajib memiliki sistem pembinaan yang terukur, presisi, dan berbasis riset ilmiah.
”Kerja sama ini adalah lompatan besar bagi tinju Indonesia. Kita menggandeng Yong In University dan Chinese Culture University karena mereka memiliki cetak biru yang teruji dalam mengawinkan prestasi atlet dengan ilmu pengetahuan olahraga (sports science),” tegas Hillary Brigitta Lasut.
”Kehadiran Prof. Lin Yu-Ting di dalam ekosistem kerja sama ini akan memberikan suntikan mentalitas juara sekaligus transfer teknologi pelatihan yang sangat bernilai bagi atlet-atlet kita,” tambahnya.
Akselerasi Jangka Panjang Menuju Emas
Melalui kemitraan global ini, PERTINA telah merancang program jangka panjang yang komprehensif. Para atlet dan pelatih Indonesia dipastikan akan mendapatkan akses penuh terhadap metode latihan mutakhir, analisis performa berbasis teknologi, pertukaran pengetahuan (knowledge sharing), hingga peningkatan kualitas SDM secara masif.
Langkah berani ini menjadi sinyal kuat bahwa PERTINA tidak lagi main-main dalam menatap persaingan regional maupun global. Target yang dibidik sangat jelas dan tidak menawar, yaitu mendongkrak performa secara radikal demi mengembalikan kejayaan Merah Putih di ajang SEA Games, Asian Games, hingga puncaknya, merebut medali emas di pentas Olimpiade.
















